PVMBG menduga fenomena tersebut berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau. Energi akustik yang besar dapat merambat hingga ratusan kilometer karena dipengaruhi kondisi atmosfer, termasuk pembiasan suara serta suhu dan arah angin pada lapisan atmosfer bagian atas.
Hingga pemutakhiran terakhir, belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat aktivitas erupsi. Kerugian materiil dan dampak lainnya masih dalam pendataan.
Status Gunung Anak Krakatau Level III
Aktivitas erupsi saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026.
Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Setelah peningkatan aktivitas tersebut, status Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada hari yang sama pukul 16.30 WIB.
Status Level III (Siaga) masih berlaku hingga pemutakhiran terakhir. PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan maupun pengunjung tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Di sisi lain, kondisi transportasi laut di sekitar wilayah terdampak dilaporkan masih relatif aman. Perairan disebut dalam kondisi tenang dan jalur penyeberangan Merak–Bakauheni belum dilaporkan mengalami gangguan.
Kesiapsiagaan Diperkuat




