“Kita tidak bisa hanya meminta generasi muda mencintai budaya dengan cara-cara lama. Budaya harus dikemas secara kreatif, menarik dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai dan jati dirinya,” katanya.
Meriani juga mendorong kolaborasi antara KSBN dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas, tokoh adat, pelaku seni, media, dan masyarakat untuk menggali serta mendokumentasikan potensi budaya Boalemo.
Menurutnya, sejumlah tradisi, kesenian, cerita sejarah, bahasa, musik, tarian, dan kearifan lokal berpotensi hilang apabila tidak segera didokumentasikan dan diwariskan.
“Kita ingin mulai dari pendataan dan dokumentasi. Apa yang kita miliki harus diketahui, dicatat dan diwariskan. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mendengar cerita bahwa Boalemo pernah memiliki kekayaan budaya tertentu, tetapi tidak lagi mengetahui bentuk dan maknanya,” tegasnya.
Selain dokumentasi, KSBN Boalemo juga akan mendorong keterlibatan generasi muda dalam berbagai program kebudayaan. Meriani menilai regenerasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.
“Kalau kita ingin budaya tetap hidup 10, 20 bahkan 50 tahun ke depan, maka anak-anak muda harus dilibatkan sejak sekarang. Mereka bukan hanya penonton, tetapi harus menjadi pelaku dan penerus kebudayaan,” ujarnya.
Meriani berharap KSBN Boalemo tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menghadirkan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk membuka ruang ekonomi kreatif bagi para pelaku seni dan budaya.




